Sabtu, 29 Desember 2007

Hukum Gambar dan Patung

Syaikh Muhammad Bin Jamil Zainu
Islam tegak untuk menyeru seluruh manusia agar beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah, baik berupa para wali atau orang-orang shalih, yang biasanya diabadikan dalam bentuk patung-patung, arca-arca, gambar-gambar, kuburan-kuburan, kubah-kubah atau yang lainnya yang akan mengantarkan kepada kesyirikan. Seruan Islam ini ada sejak dahulu, sejak Allah mengutus para Rasul untuk memberikan petunjuk kepada manusia. Allah berfirman (yang artinya):"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut itu." (An-Nahl:36)
Thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah dalam keadaan ridha. Sungguh telah ada penyebutan patung-patung ini di dalam surat Nuuh. Dan dalil terkuat yang menunjukkan bahwa patung-patung ini adalah penggambaran untuk mewakili orang-orang shalih adalah hadits yang disebutkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala (yang artinya):"Dan mereka berkata: "Janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwaa’, Yaghuuts, Ya’uuq dan Nasr." Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia)." (Nuuh:23-24)
Beliau (Ibnu ‘Abbas) mengatakan: "Ini adalah nama-nama orang-orang shalih dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, syaithan membisikkan pada kaum mereka agar mendirikan patung-patung di majelis-majelis yang biasa digunakan oleh orang-orang shalih tersebut dan agar menamakan patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka. Maka kaum itu pun melakukannya dan ketika itu patung-patung tersebut belum disembah, sampai ketika generasi itu telah tiada dan ilmu telah dihapus, patung-patung itu pun disembah." Kisah ini menunjukkan bahwa sebab peribadahan kepada selain Allah adalah patung-patung yang digambarkan sebagai perlambang para pemimpin.Patung dan Gambar Menyebabkan KesyirikanMayoritas orang beranggapan bahwa patung-patung tersebut terlebih lagi gambar-gambar telah menjadi perkara yang halal karena tidak adanya orang yang menyembah/mengibadahi gambar-gambar dan patung-patung tersebut pada saat sekarang ini. Anggapan mereka ini tertolak dari beberapa sisi:
Bahwasanya peribadahan terhadap patung-patung dan gambar-gambar senantiasa ada pada zaman ini. Kita lihat patung Nabi ‘Isa dan Ibunya, Maryam, diibadahi di gereja-gereja, sampai-sampai mereka ruku’ (membungkuk) kepada salib!! Bahkan ada semacam papan hias bergambar ‘Isa dan Maryam yang dijual dengan harga yang sangat mahal dan digantungkan di rumah-rumah agar bisa diibadahi dan diagungkan.
Patung-patung para pemimpin di negara-negara yang maju secara material namun terbelakang secara spiritual, orang-orang membuka tutup kepala mereka untuk patung-patung tersebut dan membungkukkan badan ketika melewatinya. Di antara contohnya, seperti patung George Washington di Amerika Serikat, Napoleon di Perancis, Lenin dan Stalin di Rusia, serta patung-patung lain yang diletakkan di jalan-jalan, di mana orang-orang ruku’/membungkuk ketika melewatinya. Gagasan tentang patung ini menjalar ke sebagian negara-negara Arab. Mereka membebek orang-orang kafir dengan membangun patung-patung di jalan-jalan mereka. Dan patung-patung ini terus-menerus dibuat dan dipasang di negara-negara Arab dan negara-negara Islam lainnya. Wallaahul Musta’aan.Maka wajib mengalihkan dana pembuatan patung ini untuk membangun masjid-masjid, sekolah, rumah sakit dan lembaga-lembaga sosial sehingga manfaatnya lebih terasa dan tidak menjadi masalah bila menamakan bangunan-bangunan tersebut dengan nama para pemimpin itu.
Sesungguhnya patung-patung ini nantinya setelah berlalu masa yang panjang, manusia akan membungkukkan kepala, mengagungkannya dan menyembahnya. Sebagaimana yang terjadi di Eropa, Turki dan negera-negera yang lainnya. Dan kaum Nuh telah mendahului mereka dalam perkara itu dengan mendirikan patung-patung para pemimpin mereka, kemudian mengagungkan dan menyembahnya. Waspadalah wahai kaum muslimin dari hal-hal yang akan mengantarkan kepada kesyirikan!!
Sungguh Rasulullah telah memerintahkan ‘Ali bin Abi Thalib dengan sabdanya (yang artinya): "Jangan engkau biarkan sebuah patung pun kecuali engkau hancurkan dan jangan pula engkau biarkan kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan (dengan tanah)." (HR. Muslim). Dan dalam suatu riwayat: "Dan jangan engkau biarkan sebuah gambar pun kecuali engkau hapus." (HR. Muslim)
Bahaya Gambar dan PatungIslam tidaklah mengharamkan sesuatu kecuali padanya ada bahaya yang mengancam agama, akhlak dan harta manusia. Orang Islam yang sejati adalah orang yang tanpa berfikir panjang langsung menerima perintah Allah dan Rasul-Nya meskipun belum mengerti sebab atau alasan perintah tersebut. Islam melarang patung dan gambar karena banyak mendatangkan bahaya di antaranya:
Merusak ‘aqidah dan peribadahan. Contohnya: orang Kristen menyembah patung ‘Isa dan Bunda Maria serta salib. Orang Eropa dan Rusia menyembah patung pemimpin mereka, menghormati dan mengagungkannya. Orang-orang Islam telah meniru orang Eropa dalam membuat patung pemimpin mereka baik di negeri Islam Arab maupun bukan Arab. Para ahli thariqat dan tasawwuf (kaum shufi) membuat pula gambar guru-guru mereka yang diletakkan di muka mereka pada waktu shalat dengan maksud supaya lebih semangat dalam beribadah ketika melihat gambar-gambar tersebut. Ini adalah perbuatan bid’ah dan mengantarkan kepada kesyirikan. Bahkan kalau sampai meminta bantuan kepada patung atau gambar tersebut untuk mengkhusyu’kan shalatnya atau berdo’a kepadanya dan lain-lainnya maka ini adalah kesyirikan yang nyata. (Lihat sejarah kaum Nabi Nuh)
Merusak akhlak generasi muda. Kita saksikan di jalan-jalan utama terpampang gambar-gambar telanjang yang memang sangat digandrungi oleh mereka sehingga dengan sembunyi atau terang-terangan mereka berbuat keji yang merusakkan akhlak mereka. Mereka sudah tidak lagi mau memikirkan agama, negara, jiwa kesucian, kehormatan dan jihad pun sudah luntur dari diri mereka. Demikianlah gambar-gambar itu menghias poster-poster, majalah, surat kabar dan buku iklan bahkan di pakaian pun terdapat gambar porno, belum lagi apa yang disebut blue-film.
Membelanjakan harta di dalam kebathilan. Patung-patung tersebut dibuat dengan biaya mahal sampai jutaan rupiah, dan banyak orang yang membelinya untuk digantung di dinding rumah, demikian pula lukisan-lukisan orang tua yang sudah meninggal dibuat dengan biaya yang tidak sedikit, yang tentunya tidak bermanfaat sedikit pun bagi keluarganya yang sudah meninggal tersebut. Tetapi apabila dishadaqahkan dengan niat agar pahalanya sampai kepada yang meninggal dunia tentu akan bermanfaat baginya.
Gambar dan Patung Keduanya Haram
Sebagian orang menyangka bahwa hukum haram itu untuk patung saja seperti yang terdapat pada zaman jahiliyyah, tidak mencakup hukum gambar. Pendapat ini asing sekali karena seolah-olah ia belum pernah membaca nash-nash yang mengharamkan gambar, seperti di bawah ini:
Dari ‘A’isyah bahwasannya ia membeli bantal kecil yang ada gambar-gambarnya. Ketika Rasulullah melihatnya beliau berdiri di pintu tidak mau masuk. Maka ‘A’isyah mengetahui ada tanda kebencian di muka Rasulullah. Lalu ia pun berkata: "Ya Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya, dosa apakah yang telah kuperbuat?" Rasulullah menjawab: "Bagaimana halnya bantal itu?" ‘A’isyah menjawab: "Saya membelinya agar engkau duduk dan bersandar di atasnya." Kata Rasulullah (artinya): "Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat dan akan dikatakan kepada mereka: "Hidupkanlah gambar-gambar yang kalian buat itu!" Kemudian beliau bersabda (artinya): "Sesungguhnya rumah yang ada gambar-gambar (yang bernyawa -pent) di dalamnya tidak akan dimasuki malaikat." (Muttafaqun ‘alaih)
Sabda Rasulullah pula (yang artinya): "Manusia yang paling pedih siksanya di hari kiamat ialah yang meniru ciptaan Allah. Sedangkan para pelukis dan penggambar adalah orang-orang yang meniru ciptaan Allah." (Muttafaqun ‘alaih)
"Bahwasannya Nabi ketika melihat gambar-gambar di rumah, beliau tidak mau masuk sebelum gambar itu dihapus." (HR. Al-Bukhariy)
Gambar dan Patung yang Diperbolehkan
Diperbolehkan gambar dan patung pohon, bintang, matahari, bulan, gunung-gunung, batu, laut, sungai, pemandangan yang indah atau tempat-tempat suci seperti Ka’bah, Madinah dan Masjidil Aqsha serta masjid-masjid yang lain, bila kesemuanya itu kosong dari gambar manusia atau hewan dan segala sesuatu yang mempunyai ruh. Dalil dalam masalah ini adalah ucapan Ibnu ‘Abbas: "Bila engkau harus menggambar atau membuat patung maka buatlah (gambar) pohon dan apa-apa yang tidak mempunyai ruh." (HR. Al-Bukhariy)
Gambar dan foto pada kartu identitas atau pasport, SIM dan perkara-perkara darurat lainnya. Hal ini diperbolehkan karena merupakan masalah darurat (suatu keharusan/keterpaksaan/sesuatu yang tidak dapat dihindari).
Pemotretan gambar pelaku kriminal seperti pembunuh, pencuri dan lainnya untuk membantu penangkapannya agar dapat ditegakkan hukum qishash atas mereka. Demikian pula diperbolehkan untuk kepentingan ilmiyyah seperti kedokteran dan lainnya.
Diperbolehkan bagi anak-anak perempuan untuk bermain dengan boneka dari kain perca yang berbentuk bayi kecil, sehingga anak-anak itu bisa memakaikan baju padanya, memandikan atau menidurkannya. Hal ini dapat menjadikan anak-anak ini belajar mendidik dan memelihara anak-anak setelah nantinya mereka menjadi ibu. Sedangkan dalil dalam permasalahan ini adalah ucapan ‘A’isyah: "Aku bermain-main boneka di sisi Nabi."(HR. Al-Bukhariy). Tetapi, tidak diperkenankan membeli boneka-boneka asing/luar negeri bagi anak-anak terlebih lagi boneka-boneka perempuan yang nampak wajahnya dan terlihat tubuhnya (terbuka auratnya) karena anak-anak perempuan akan menirunya sehingga nanti akan merusak masyarakat dengan cara berpakaian yang seperti itu. Selain itu dengan membeli boneka-boneka import ini hanya akan mengalirkan uang ke negeri-negeri asing dan Yahudi.
Diperbolehkan gambar yang dipotong kepalanya sehingga tidak menggambarkan makhluk bernyawa lagi tetapi seperti benda mati. Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah mengenai gambar: "Perintahkanlah orang untuk memotong kepala gambar itu."
Wallaahu A’lam.
Diringkas dengan beberapa perubahan dari kitab "Kaifa Nurabbii Aulaadanaa"
dan kitab "Taujiihaat Islaamiyyah li Ishlaahil Fard wal Mujtama’"
Sumber: Buletin Dakwah Al Wala’ wal Bara’
Edisi ke-37 Tahun ke-2 / 06 Agustus 2004 M / 19 Jumadits Tsani 1425 H

Kamis, 27 Desember 2007

Dakwah, Kewajiban Umat Ini


10 September, 2007

– Tingkat pembahasan: Lanjutan

Penulis: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.

Dakwah merupakan jalannya para rasul dan para pengikutnya. Juga merupakan tugas utama mereka dalam memperbaiki keadaan umat manusia. Demikianlah Rasulullah diutus untuk berdakwah kepada tauhid dan akhlak yang mulia. Itu tidak hanya beliau, bahkan rasul sebelumnya pun demikian.

Dakwah dan pembinaan generasi umat dengan segala lapisan dan tingkatannya merupakan tugas agung. Para rasul dan para pengikutnya selalu bersemangat dalam menjalankannya. Mereka sangat antusias dalam menunjuki manusia ke jalan Allah.

Lihatlah kisah nabi Nuh yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur’an.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلاَّ خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. 29:14)

Dalam waktu yang demikian panjangnya beliau berdakwah dengan kesungguhan dan kesabarannya. Lihatlah firman Allah:

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللهِ إِذَآ جَاءَ لاَ يُؤَخَّرُ لَوْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلاً وَنَهَارًا فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَآءِى إِلاَّ فِرَارًا وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): ‘Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepada mereka azab yang pedih.’ Nuh berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.’ Nuh berkata: ‘Ya Rabbku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.’” (Nuh 71:1-9)

Beliau berdakwah siang dan malam, kemudian terang-terangan lalu menyatukan cara terang-terangan dengan diam-diam. Inilah sebenar-benarnya kesungguhan dalam nasihat dan penyampaian risalah (Dari perkataan Abul Qaasim Al Ghornathiy dalam At Tashiil Li ‘Uluumit Tanziil 4/161). Ibnu ‘Atiyah menyatakan: “Makna Jihar (terang-terangan di sini) adalah mengajak mereka di perayaan dan tempat berkumpulnya mereka dan Israr (diam-diam) adalah mendo’akan setiap orang dari mereka.”

Imam Al Qurthubiy menyatakan dalam tafsir ayat-ayat ini: “Semua ini merupakan kesungguhan dalam dakwah dan lemah lembut dalam mengajak orang dari Nabi Nuh.” (Taafsiir Qurthubiy 18/301 dinukil dari Al Hirshu ‘Ala Hidayatin Nas hal. 12)

Demikian juga kisah Ibrahim dan Ya’qub dalam dakwah kepada Allah, sampai keduanya masih berdakwah menjelang wafat. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَوَصَّى بِهَآ إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبَ يَابَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ أَمْ ُكنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتَ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’ Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku.’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya.’” (QS. 2:132-133)

Adapun semangat Rasulullah dalam menunjuki manusia kejalan Allah sudah dikenal dan masyhur sekali. Hal ini mestinya menjadi panduan dan contoh kepada kita dalam berdakwah, sehingga kita dapat mencapai apa yang diberikan Allah kepada kita dari keutamaan dakwah kepada Allah.

Apa itu Dakwah Kepada Allah ?

Dakwah bermakna mengajak manusia untuk mengerjakan seluruh perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Allah berfirman dalam menjelaskan makna dakwah:

أُوْلاَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللهُ يَدْعُوا إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ

“Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al Baqarah: 221)

Sehingga makna dakwah kepada Allah adalah mengajak dan menyeru manusia untuk melaksanakan perintah Alah berupa iman kepada-Nya dan seluruh ajaran para rasul-Nya. (Fawaaz bin Hulail Al Suhaimi, Usus Manhaj Salaf fi Dakwah Ila Allah, hal 31)

Keutamaan Dakwah Kepada Allah

Setelah melihat semangat para Rasul dalam berdakwah kepada Allah, perlu kita melihat kepada keutamaannya untuk memompa semangat kita dalam berdakwah.

  1. Dai adalah orang yang paling baik perkataannya. Al-Qur’an surat Fushshilat: 33, An Nahl: 125
  2. Mendapatkan doa Rasulullah diberi cahaya oleh Allah.
  3. Mendapat pahala besar bila seseorang mendapat hidayah melaluinya.
  4. Mendapatkan pahala orang yang mengikutinya.
  5. Mendapat shalawat Allah dan makhluknya yang di langit dan di bumi.
  6. Mendapat pahala yang kekal sampai hari kiamat.

Tujuan dan Rukun Dakwah

Dakwah kepada Allah mengandung dua rukun asasi yaitu:

  1. Menjelaskan, belajar, mengajarkan, menyebarkan dan mengamalkan agama, aqidah dan syariat.
  2. Menjaga, membela agama, aqidah dan syariat dan menjelaskan semua yang menyelisihinya. (Dr. Nashir Abdulkarim Al ‘Aql, Dirasat Fil Ahwa’ wal Firoq wal Bida’ hal. 6)

Sedangkan tujuan dan target dakwah yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah ada dua juga, yaitu:

1. Melepas beban tanggung jawab menegakkan hujjah (penjelasan) kepada orang yang didakwahi. Ini dapat dilihat dalam pernyataan Ibnu Taimiyah di bawah ini. Ibnu Taimiyah berkata: “Sungguh Allah menegakkan hujjahnya kepada para makhluk dengan para rasul yang diutus sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, sebagaimana dalam firman-Nya:

رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (QS. 4:165)

juga berfirman tentang penduduk neraka:

كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ قَالُوا بَلَى قَدْ جَآءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَانَزَّلَ اللهُ مِن شَىْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ كَبِيرٍ

“Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?’ Mereka menjawab: ‘Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.’” (QS. 67:8-9) (Ibnu Timiyah, Majmu’ Al Fatawa 19/142)

Demikian juga firman Allah:

فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ

“Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. 16:35)

Ayat ini menjelaskan tujuan dakwah yaitu menegakkan hujjah atas manusia dengan menyampaikan perintah Allah, membimbing dan menasihati mereka untuk menjalaninya agar lepas tanggung jawabnya.

2. Mengharap petunjuk bagi orang yang didakwahi. Ini dapat dilihat dari sirah Nabi dan dijelaskan langsung oleh Allah dalam banyak ayat-Nya, di antaranya:

إِن تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي مَن يُضِلُّ وَمَالَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong.” (QS. 16:37)

فَلاَ تُذْهِبْ نَفْسَكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. 35:8)

Kedua tujuan ini disampaikan Allah dalam firman-Nya:

وَسْئَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لا َيَسْبِتُونَ لا َتَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: ‘Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras. Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertaqwa.’” (QS. 7:163-164)

Hukum Dakwah atau Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

(Disarikan dari buku Hakikat Al Amr Bil Ma’ruf wan Nahi ‘Anil Mungkar, karya Dr. Hamd bin Nashir Al Amaar, hal. 39-40 dan Makalah Al Amr Bil Ma’ruf wan Nahi Anil Mungkar Bainal Ifraath wat Tafriith, karya Dr.Ali n ashir Al Faqihiy, dalam Majalah Al-Furqaan edisi 144, 21 Shafar 1422 H, hal. 20 serta Al Amr Bil Ma’ruf wan Nahi ‘Anil Mungkar, Ibnu Taimiyah)

Dakwah dapat disamakan dengan amar ma’ruf nahi mungkar, karena dakwah berisikan ajakan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dengan demikian dakwah merupakan kewajiban yang dibebankan Allah ta’ala kepada umat Islam sesuai kemampuannya. Ditegaskan oleh dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Ijma’ para Ulama.

Dalil Al Qur’an

Firman Allah ta’ala:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Imran: 104)

Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Maksud dari ayat ini, hendaklah ada sebagian umat ini yang menegakkan perkata ini.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al Karim karya Ibnu Katsir 1/339-405)

Dan firman-Nya,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Al-Imran: 110)

Umar bin Khaththab berkata ketika memahami ayat ini, “Wahai sekalian manusia, barang siapa yang ingin termasuk umat tersebut, hendaklah menunaikan syarat Allah darinya.” (Lihat Asy-Syaukaniy, Fathul Qadir, 1/453)

Dalil Sunah

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barang siapa yang melihat satu kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.” (Riwayat Muslim)

Sedangkan Ijma’ kaum muslimin, telah dijelaskan oleh para ulama, di antaranya:

  1. Ibnu Hazm Adz Dzahiriy, beliau berkata, “Seluruh umat telah bersepakat mengenai kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada perselisihan diantara mereka sedikitpun.” (Ibnu Hazm, Al-Fashl Fil Milal Wan Nihal, 5/19)
  2. Abu Bakr al-Jashshash, beliau berkata, “Allah ta’ala telah menegaskan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar melalui beberapa ayat dalam Al-Qur’an, lalu dijelaskan Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang mutawatir. Dan para salaf serta ahli fiqih Islam telah berkonsensus atas kewajibannya.” (Al-Jashash, Ahkamul Qur’an, 2/486)
  3. An-Nawawi berkata, “Telah banyak dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta Ijma yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar.” (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 2/22)
  4. Asy-Syaukaniy berkata, “Amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kewajiban, pokok serta rukun syari’at terbesar dalam syariat. Dengannya sempurna aturan Islam dan tegak kejayaannya.” (Asy-Syaukaniy, Fathul Qadir, 1/450)

Jelaslah kewajiban umat ini untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.

Kriteria Da’i

Tugas seorang dai adalah tugas memimpin, sehingga sepatutnya seorang dai memiliki sifat-sifat yang dapat mendukung dakwahnya. Di antara sifat tersebut adalah:

  1. Ikhlas
  2. Berilmu
  3. Sabar dan hilm
  4. Rifq (lemah lembut)

    Ketiga sifat ini (ilmu, rifq dan hilm) dikatakan Syeikhul Islam sebagai satu keharusan bagi dai. Beliau berkata: “Harus memiliki tiga hal ini: ilmu, kelemah lembutan dan sabar. Berilmu sebelum melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, berlemah lembut bersamanya dan bersabar setelahnya, walaupun setiap dari sifat-sifat tersebut harus bersama ada dalam keadaan-keadaan yang ada.”

  5. Kesatuan amal dan ucapan.
  6. Memperhatikan keadan para mad’u.
  7. Berkeyakinan sebagai pewaris Nabi dengan dakwah mereka meyebarkan sunnah dan petunjuknya, agar hal ini dapat mendorongnya mengikuti Rasululoh dalam berdakwah dan bersabar padanya.
  8. Berdakwah dengan hikmah dengan menggunakan wasilah dan uslub yang sesuai dengan tempat dan kondisi.
  9. Memiliki akhlak dan adab yang menjadikannya sebagai qudwah hasanah bagi para mad’unya.

Demikian makalah ini dibuat mudah-mudahan bermanfaat.

Diambil dari kumpulan makalah Ust. Kholid Syamhudi

Selasa, 18 Desember 2007

Dakwah, Kewajiban Umat Ini10 September, 2007
– Tingkat pembahasan: Lanjutan
Penulis: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.
Dakwah merupakan jalannya para rasul dan para pengikutnya. Juga merupakan tugas utama mereka dalam memperbaiki keadaan umat manusia. Demikianlah Rasulullah diutus untuk berdakwah kepada tauhid dan akhlak yang mulia. Itu tidak hanya beliau, bahkan rasul sebelumnya pun demikian.Dakwah dan pembinaan generasi umat dengan segala lapisan dan tingkatannya merupakan tugas agung. Para rasul dan para pengikutnya selalu bersemangat dalam menjalankannya. Mereka sangat antusias dalam menunjuki manusia ke jalan Allah.
Lihatlah kisah nabi Nuh yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur’an.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلاَّ خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. 29:14)
Dalam waktu yang demikian panjangnya beliau berdakwah dengan kesungguhan dan kesabarannya. Lihatlah firman Allah:
إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللهِ إِذَآ جَاءَ لاَ يُؤَخَّرُ لَوْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلاً وَنَهَارًا فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَآءِى إِلاَّ فِرَارًا وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): ‘Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepada mereka azab yang pedih.’ Nuh berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.’ Nuh berkata: ‘Ya Rabbku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.’” (Nuh 71:1-9)
Beliau berdakwah siang dan malam, kemudian terang-terangan lalu menyatukan cara terang-terangan dengan diam-diam. Inilah sebenar-benarnya kesungguhan dalam nasihat dan penyampaian risalah (Dari perkataan Abul Qaasim Al Ghornathiy dalam At Tashiil Li ‘Uluumit Tanziil 4/161). Ibnu ‘Atiyah menyatakan: “Makna Jihar (terang-terangan di sini) adalah mengajak mereka di perayaan dan tempat berkumpulnya mereka dan Israr (diam-diam) adalah mendo’akan setiap orang dari mereka.”
Imam Al Qurthubiy menyatakan dalam tafsir ayat-ayat ini: “Semua ini merupakan kesungguhan dalam dakwah dan lemah lembut dalam mengajak orang dari Nabi Nuh.” (Taafsiir Qurthubiy 18/301 dinukil dari Al Hirshu ‘Ala Hidayatin Nas hal. 12)
Demikian juga kisah Ibrahim dan Ya’qub dalam dakwah kepada Allah, sampai keduanya masih berdakwah menjelang wafat. Sebagaimana firman Allah ta’ala:
وَوَصَّى بِهَآ إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبَ يَابَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ أَمْ ُكنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتَ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’ Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku.’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya.’” (QS. 2:132-133)
Adapun semangat Rasulullah dalam menunjuki manusia kejalan Allah sudah dikenal dan masyhur sekali. Hal ini mestinya menjadi panduan dan contoh kepada kita dalam berdakwah, sehingga kita dapat mencapai apa yang diberikan Allah kepada kita dari keutamaan dakwah kepada Allah.
Apa itu Dakwah Kepada Allah ?
Dakwah bermakna mengajak manusia untuk mengerjakan seluruh perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Allah berfirman dalam menjelaskan makna dakwah:
أُوْلاَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللهُ يَدْعُوا إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ
“Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al Baqarah: 221)
Sehingga makna dakwah kepada Allah adalah mengajak dan menyeru manusia untuk melaksanakan perintah Alah berupa iman kepada-Nya dan seluruh ajaran para rasul-Nya. (Fawaaz bin Hulail Al Suhaimi, Usus Manhaj Salaf fi Dakwah Ila Allah, hal 31)
Keutamaan Dakwah Kepada Allah
Setelah melihat semangat para Rasul dalam berdakwah kepada Allah, perlu kita melihat kepada keutamaannya untuk memompa semangat kita dalam berdakwah.
Dai adalah orang yang paling baik perkataannya. Al-Qur’an surat Fushshilat: 33, An Nahl: 125
Mendapatkan doa Rasulullah diberi cahaya oleh Allah.
Mendapat pahala besar bila seseorang mendapat hidayah melaluinya.
Mendapatkan pahala orang yang mengikutinya.
Mendapat shalawat Allah dan makhluknya yang di langit dan di bumi.
Mendapat pahala yang kekal sampai hari kiamat.
Tujuan dan Rukun Dakwah
Dakwah kepada Allah mengandung dua rukun asasi yaitu:
Menjelaskan, belajar, mengajarkan, menyebarkan dan mengamalkan agama, aqidah dan syariat.
Menjaga, membela agama, aqidah dan syariat dan menjelaskan semua yang menyelisihinya. (Dr. Nashir Abdulkarim Al ‘Aql, Dirasat Fil Ahwa’ wal Firoq wal Bida’ hal. 6)
Sedangkan tujuan dan target dakwah yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah ada dua juga, yaitu:
1. Melepas beban tanggung jawab menegakkan hujjah (penjelasan) kepada orang yang didakwahi. Ini dapat dilihat dalam pernyataan Ibnu Taimiyah di bawah ini. Ibnu Taimiyah berkata: “Sungguh Allah menegakkan hujjahnya kepada para makhluk dengan para rasul yang diutus sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, sebagaimana dalam firman-Nya:
رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (QS. 4:165)
juga berfirman tentang penduduk neraka:
كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ قَالُوا بَلَى قَدْ جَآءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَانَزَّلَ اللهُ مِن شَىْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ كَبِيرٍ
“Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?’ Mereka menjawab: ‘Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.’” (QS. 67:8-9) (Ibnu Timiyah, Majmu’ Al Fatawa 19/142)
Demikian juga firman Allah:
فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ
“Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. 16:35)
Ayat ini menjelaskan tujuan dakwah yaitu menegakkan hujjah atas manusia dengan menyampaikan perintah Allah, membimbing dan menasihati mereka untuk menjalaninya agar lepas tanggung jawabnya.
2. Mengharap petunjuk bagi orang yang didakwahi. Ini dapat dilihat dari sirah Nabi dan dijelaskan langsung oleh Allah dalam banyak ayat-Nya, di antaranya:
إِن تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي مَن يُضِلُّ وَمَالَهُم مِّن نَّاصِرِينَ
“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong.” (QS. 16:37)
فَلاَ تُذْهِبْ نَفْسَكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. 35:8)
Kedua tujuan ini disampaikan Allah dalam firman-Nya:
وَسْئَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لا َيَسْبِتُونَ لا َتَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: ‘Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras. Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertaqwa.’” (QS. 7:163-164)
Hukum Dakwah atau Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
(Disarikan dari buku Hakikat Al Amr Bil Ma’ruf wan Nahi ‘Anil Mungkar, karya Dr. Hamd bin Nashir Al Amaar, hal. 39-40 dan Makalah Al Amr Bil Ma’ruf wan Nahi Anil Mungkar Bainal Ifraath wat Tafriith, karya Dr.Ali n ashir Al Faqihiy, dalam Majalah Al-Furqaan edisi 144, 21 Shafar 1422 H, hal. 20 serta Al Amr Bil Ma’ruf wan Nahi ‘Anil Mungkar, Ibnu Taimiyah)
Dakwah dapat disamakan dengan amar ma’ruf nahi mungkar, karena dakwah berisikan ajakan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dengan demikian dakwah merupakan kewajiban yang dibebankan Allah ta’ala kepada umat Islam sesuai kemampuannya. Ditegaskan oleh dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Ijma’ para Ulama.
Dalil Al Qur’an
Firman Allah ta’ala:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Imran: 104)
Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Maksud dari ayat ini, hendaklah ada sebagian umat ini yang menegakkan perkata ini.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al Karim karya Ibnu Katsir 1/339-405)
Dan firman-Nya,
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Al-Imran: 110)
Umar bin Khaththab berkata ketika memahami ayat ini, “Wahai sekalian manusia, barang siapa yang ingin termasuk umat tersebut, hendaklah menunaikan syarat Allah darinya.” (Lihat Asy-Syaukaniy, Fathul Qadir, 1/453)
Dalil Sunah
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barang siapa yang melihat satu kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.” (Riwayat Muslim)
Sedangkan Ijma’ kaum muslimin, telah dijelaskan oleh para ulama, di antaranya:
Ibnu Hazm Adz Dzahiriy, beliau berkata, “Seluruh umat telah bersepakat mengenai kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada perselisihan diantara mereka sedikitpun.” (Ibnu Hazm, Al-Fashl Fil Milal Wan Nihal, 5/19)
Abu Bakr al-Jashshash, beliau berkata, “Allah ta’ala telah menegaskan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar melalui beberapa ayat dalam Al-Qur’an, lalu dijelaskan Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang mutawatir. Dan para salaf serta ahli fiqih Islam telah berkonsensus atas kewajibannya.” (Al-Jashash, Ahkamul Qur’an, 2/486)
An-Nawawi berkata, “Telah banyak dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta Ijma yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar.” (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 2/22)
Asy-Syaukaniy berkata, “Amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kewajiban, pokok serta rukun syari’at terbesar dalam syariat. Dengannya sempurna aturan Islam dan tegak kejayaannya.” (Asy-Syaukaniy, Fathul Qadir, 1/450)
Jelaslah kewajiban umat ini untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.
Kriteria Da’i
Tugas seorang dai adalah tugas memimpin, sehingga sepatutnya seorang dai memiliki sifat-sifat yang dapat mendukung dakwahnya. Di antara sifat tersebut adalah:
Ikhlas
Berilmu
Sabar dan hilm
Rifq (lemah lembut)
Ketiga sifat ini (ilmu, rifq dan hilm) dikatakan Syeikhul Islam sebagai satu keharusan bagi dai. Beliau berkata: “Harus memiliki tiga hal ini: ilmu, kelemah lembutan dan sabar. Berilmu sebelum melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, berlemah lembut bersamanya dan bersabar setelahnya, walaupun setiap dari sifat-sifat tersebut harus bersama ada dalam keadaan-keadaan yang ada.”
Kesatuan amal dan ucapan.
Memperhatikan keadan para mad’u.
Berkeyakinan sebagai pewaris Nabi dengan dakwah mereka meyebarkan sunnah dan petunjuknya, agar hal ini dapat mendorongnya mengikuti Rasululoh dalam berdakwah dan bersabar padanya.
Berdakwah dengan hikmah dengan menggunakan wasilah dan uslub yang sesuai dengan tempat dan kondisi.
Memiliki akhlak dan adab yang menjadikannya sebagai qudwah hasanah bagi para mad’unya.
Demikian makalah ini dibuat mudah-mudahan bermanfaat.
Diambil dari kumpulan makalah Ust. Kholid Syamhudi

Kamis, 13 Desember 2007

plasa informasi

mati lampu oi......................